Radio Frequency Identification rfid




Скачать 77.53 Kb.
НазваниеRadio Frequency Identification rfid
Дата конвертации14.05.2013
Размер77.53 Kb.
ТипДокументы
Manfaat Teknologi Radio Frequency Identification (RFID)

di Rumah Sakit


Estelle Lilian *


Abstrak


RFID digunakan di rumah sakit untuk memberikan pelayanan yang efisien, aman, dan berkelanjutan. Beberapa rumah sakit di dunia telah berhasil mengimplementasikan teknologi RFID pada area penelusuran pasien, staf medis, dan peralatan medis. RFID juga dapat meningkatkan daya saing bisnis dengan melakukan peningkatan keselamatan pasien dan menurunkan medical error. Vanany (2009) menginvestigasi manfaat dan hambatan pengadopsian RFID di Indonesia dengan melakukan penelitian kepada konsultan, peneliti teknologi RFID, dan manajer rumah sakit berkategori besar di Pulau Jawa. Temuan dari investigasi tersebut meyakini bahwa manfaat dari pengadopsian RFID didominasi oleh manfaat yang bersifat intangible. Sedangkan hambatan utama adalah kompleksnya teknologi RFID, ketiadaan informasi yang lengkap dan valid, dan tidak tersedianya anggaran yang cukup. Pengaplikasikan teknologi RFID di rumah sakit akan meningkatkan produktivitas dari petugas medis terutama perawat yang tentu akan berdampak pada peningkatan keselamatan dan kepuasan pasien. Tujuan penulisan ini adalah untuk memberikan informasi manfaat RFID di rumah sakit dan ditulis dengan metodologi studi pustaka.


Kata kunci: Manfaat; Radio Frequency Identification; Rumah sakit



  1. Latar Belakang

Perkembangan Teknologi Informasi (TI) yang begitu pesat telah merambah ke berbagai sektor termasuk kesehatan. Meskipun dunia kesehatan merupakan bidang yang bersifat information-intensive, akan tetapi adopsi teknologi informasi relatif tertinggal. Rumah sakit dikenal sebagai organisasi yang padat modal-padat karya, tetapi investasi teknologi informasi masih merupakan bagian kecil. Di AS, negara yang relatif maju baik dari sisi anggaran kesehatan maupun teknologi informasinya, rumah sakit rerata hanya menginvestasikan 2% untuk teknologi informasi. Di sisi yang lain, masyarakat menyadari bahwa teknologi informasi merupakan salah satu tool penting dalam peradaban manusia untuk mengatasi sebagian masalah derasnya arus informasi (Anam, 2010).

Sistem informasi di rumah sakit mempunyai peran penting untuk dua alasan utama, yaitu pengendalian biaya dan peningkatan pelayanan kepada pelanggan. Meningkatnya biaya operasional dari tahun ke tahun, menyebabkan perlunya sistem informasi yang mampu mendukung pengendalian biaya. Selain memiliki potensi dalam memfilter data dan mengolah menjadi informasi, TI mampu menyimpannya dengan jumlah kapasitas jauh lebih banyak dari cara-cara manual. Konvergensi dengan teknologi komunikasi juga memungkinkan data kesehatan di-share secara mudah dan cepat. Di samping itu, teknologi memiliki karakteristik perkembangan yang sangat cepat. Setiap dua tahun, akan muncul produk baru dengan kemampuan pengolahan yang dua kali lebih cepat dan kapasitas penyimpanan dua kali lebih besar serta berbagai aplikasi inovatif terbaru. Dengan berbagai potensinya ini, adalah naif apabila manajemen informasi kesehatan di rumah sakit tidak memberikan perhatian istimewa.

Salah satu teknologi penanda unik yang sekarang semakin populer yang dapat digunakan sebagai alternatif pengawasan bagi pasien yang berbasis informasi teknologi yang dirasakan lebih efisien dan aman untuk memberikan pelayanan yang berkelanjutan adalah dengan menggunakan Radio Frequency Identification (RFID). RFID adalah teknologi identifikasi yang fleksibel, mudah digunakan, dan sangat cocok untuk operasi otomatis. RFID mengkombinasikan keunggulan yang tidak tersedia pada teknologi identifikasi yang lain. RFID dapat disediakan dalam devais yang hanya dapat dibaca saja (read Only) atau dapat dibaca dan ditulis (read/write), tidak memerlukan kontak langsung maupun jalur cahaya untuk dapat beroperasi, dapat berfungsi pada berbagai variasi kondisi lingkungan, dan menyediakan tingkat integritas data yang tinggi, serta sulit untuk dipalsukan, sehingga RFID dapat menyediakan tingkat keamanan yang tinggi (Orlovsky, 2005).

Aplikasi teknologi RFID di rumah sakit relatif baru dibandingkan dengan sektor lainnya seperti manufaktur, retail, perpustakaan, logistik dan supply chain. Beberapa rumah sakit di dunia telah berhasil mengimplementasikan teknologi RFID pada area penelusuran pasien, staf medis, peralatan medis dan area aplikasi lainnya. Di Amerika Serikat dan Eropa, alasan utama dari pengadopsian teknologi RFID adalah untuk meningkatkan daya saing bisnis dengan melakukan peningkatan keselamatan pasien dan menurunkan medical error. Dua rumah sakit di Singapura dan diikuti oleh lima buah rumah sakit di Taiwan juga telah mengimplementasikan teknologi RFID. Setelah pandemi SARS dapat dieliminir, ternyata sebagian rumah sakit tersebut mengembangkan teknologi RFID untuk mendapatkan manfaat yang bersifat tangible seperti mereduksi biaya dan waktu operasi maupun yang bersifat intangible seperti meningkatkan kualitas pelayanan medis dengan tingkat keberhasilan yang bervariasi (Wang et al., 2005 dan Tzeng et al., 2008).

Kontras dengan kondisi di Indonesia, pengadopsian dari teknologi RFID di rumah sakit hampir belum ada yang menggunakan. Padahal penyebaran yang cepat dan dramatis dari beberapa penyakit telah meningkat pada tahun terakhir ini, seperti: AIDS/HIV, demam berdarah, flu burung (SARS), dan pandemi lainnya telah mempengaruhi Indonesia diikuti dengan banyaknya penderita yang meninggal. Joseph Domenech (2008) dari FAO chief veterinary officer menyatakan bahwa “ratarata tingkat kematian dari flu burung di Indonesia adalah yang tertinggi di dunia dan akan lebih menyebar lagi pada manusia jika mereka tidak lebih memfokuskan pada kandungan penyakit di sumber hewan dan pencegahannya” (FAO Newsroom, 2008). Oleh karena itu, Vanany (2009) telah melakukan penelitian untuk menginvestigasi terhadap manfaat dan hambatan utama dari pengadopsian teknologi RFID yang pengadopsiannya berjalan lambat di rumah sakit Indonesia. Artikel ini ditulis dengan metodologi studi pustaka yang bertujuan untuk memberikan informasi manfaat RFID di rumah sakit.


  1. Landasan Teoritis

  1. Konsep Dasar Penggunaan RFID di Rumah Sakit

  1. Cara Kerja RFID

Secara garis besar sebuah sistem RFID terdiri atas tiga komponen utama, yaitu tag, reader dan basis data. Secara ringkas, mekanisme kerja yang terjadi dalam sebuah sistem RFID adalah bahwa sebuah reader frekuensi radio melakukan scanning terhadap data yang tersimpan dalam tag, kemudian mengirimkan informasi tersebut ke sebuah basis data yang menyimpan data yang terkandung dalam tag tersebut. Sistem identifikasi otomatis yang bertujuan untuk memungkinkan data ditransmisikan oleh peralatan portable yang disebut tag, yang dibaca oleh suatu reader RFID dan diproses menurut kebutuhan dari aplikasi tertentu. Misalnya digunakan untuk mendeteksi apakah pasien sudah minum obat atau belum (klien memanggil perawat secara tidak langsung), seluruh kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh pasien dapat diidentifikasi. Adapun kelebihan daripada RFID dibandingkan alat-alat yang sejenis yaitu:

  1. Data yang dapat ditampung lebih banyak daripada alat bantu lainnya (kurang lebih 2000 byte)

  2. Ukuran sangat kecil (untuk jenis pasif RFID) sehingga mudah ditanamkan dimana-mana

  3. Bentuk dan design yang flexibel sehingga sangat mudah untuk dipakai di berbagai tempat dan kegunaan karena chip RFID dapat dibuat dari tinta khusus

  4. Pembacaan informasi sangat mudah, karena bentuk dan bidang tidak mempengaruhi pembacaan, seperti sering terjadi pada barcode, magnetik dll.

  5. Jarak pembacaan yang flexibel bergantung pada antena dan jenis chip RFID yang digunakan.

  6. Kecepatan dalam pembacaan data.

  1. Teknologi RFID di Rumah Sakit

Pengadopsian teknologi RFID di rumah sakit relatif baru, Business Wire Market Research (2008) memprediksi bahwa pasar dari RFID tag, reader, dan sistemnya di dalam industri kesehatan akan meningkat secara drastis mulai dari 85,24 juta dollar Amerika Serikat pada tahun 2007 sampai 2,05 milyar dollar Amerika Serikat pada tahun 2017. Ada tiga pendorong utama yang mendorong industri kesehatan untuk menggunakan teknologi RFID yaitu: regulasi pemerintah, permintaan dari dalam industri kesehatan termasuk rumah sakit, dan kondisi ekternal sosial. Untuk regulasi pemerintah, mandat dari US Food and Drugs Administration (FDA) dan Mexico’s Federal Seguro Popular heath-insurance institution telah memicu industri kesehatan mengadopsi teknologi RFID. FDA memandatkan untuk setiap industri kesehatan terutama farmasi yang mensuplai obat-obatan ke pasar Amerika Serikat perlu membubuhkan semua item obat-obatan dengan RFID tags (FDA, 2006). Pemerintah Meksiko juga memandatkan persyaratan kepada manufaktur dan distributor untuk memberikan RFID tags pada setiap obat-obatan yang dijual ke Meksiko terutama ke institusi Federal Seguro Popular health-insurance (Bacheldor, 2006).

Evans dan Piechowski (2005) melaporkan bahwa hampir setengah (43%) dari industri kesehatan Amerika Serikat yang disurvei memerlukan teknologi RFID untuk meningkatkan kompetitif strateginya. Ini mengindikasikan bahwa keperluan dari industri kesehatan itu sendiri lebih berpengaruh dibanding dengan mandat dan rekomendasi dari pemerintah, organisasi dan konsumen besar seperti perusahaan retailer. Daya dorong lainnya dari pengadopsian teknologi RFID adalah faktor eksternal seperti rumah sakit di Singapura yang memerangi pandemi SARS yang menyerang Singapura pada tahun 2003. Bahkan dalam perkembangannya ternyata teknologi RFID juga berhasil digunakan untuk meningkatkan keselamatan pasien, meningkatkan kualitas layanan dan mereduksi biaya operasi.



  1. Manfaat Pengadopsian RFID Di Rumah Sakit

Banyak para akademisi dan praktisi meyakini bahwa teknologi RFID memiliki potensi besar untuk memberikan kemanfaatan bagi rumah sakit. Menurut Wang et al. (2005) yang melakukan studi tentang bagaimana aplikasi teknologi RFID di sebuah rumah sakit di Taiwan menunjukkan adanya penurunan biaya operasi, peningkatan keselamatan pasien dan peningkatan kualitas layanan medis. Tzeng et al. (2008) juga berhasil menunjukkan bahwa terjadi peningkatan proses bisnis dari lima rumah sakit di Taiwan dengan tingkat derajat kesuksesan yang bervariasi baik penuh maupun parsial. Laporan dari RFID journal dan media internet juga menunjukkan banyak rumah sakit di dunia yang mengimplementasikannya berhasil mendapatkan manfaat dari pengaplikasian teknologi ini seperti rumah sakit di Belanda, Italia dan California (Wessel, 2007; Swedberg, 2008 ; Orlovsky, 2005). Di sisi lain, adanya teknologi RFID memudahkan staf medis melakukan pengidentifikasian pasien dan penelurusan keberadaan peralatan medis yang diperlukan. Hal ini akan berdampak pada peningkatan produktivitas dari staf medis terutama perawat. Umumnya, rumah sakit akan semakin efisien operasinya bila mengaplikasikan teknologi RFID dan juga akan meningkatkan kepuasaan pasien. Pasien tidak lagi menunggu terlalu lama melakukan proses administrasi dan menunggu operasi karena peralatan medis belum siap/ditemukan. Adanya teknologi RFID akan menggantikan aktivitas manual menjadi otomatis sehingga biaya tenaga kerja dan waktu kerjanya dapat tereduksi. Adanya mandat dari pemerintah berkaitan dengan perlunya obat-obatan tertentu dibubuhi dengan RFID tags menyebabkan jumlah pencurian dan pemalsuan obat dapat ditekan. Dampaknya juga dapat menekan biaya persediaan obat karena rumah sakit dengan mudah bisa mengetahui berapa obat yang tersedia. Adanya teknologi ini, moral dari staf medis akan meningkat karena kemungkinan terjadinya kesalahan obat dan sukarnya memantau pasien dan peralatan medis dapat dihindari. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa manfaat teknologi RFID di industri kesehatan terutama rumah sakit, adalah: anti pencurian dan pemalsuan, peningkatan keselamatan pasien, peningkatan proses bisnis, peningkatan kepuasan pasien, peningkatan moral staf medis, pengurangan biaya dan waktu, dan peningkatan produktivitas

Area aplikasi teknologi RFID di industri kesehatan khususnya rumah sakit relatif beragam. Berdasarkan hasil studi pustaka (Wang et al., 2005; Tzeng et al., 2008; FDA, 2006), ada lima jenis yang bisa dilakukan pengaplikasian teknologi RFID yaitu: kontrol dan pengamanan, penelusuran pasien, penelusuran peralatan medis, penelusuran staf, dan penelusuran aset di luar peralatan medis seperti komputer, kursi, dan lainnya.

  1. Hambatan Pengadopsian RFID di Rumah Sakit

Hasil penelurusan literatur memperlihatkan bahwa ada empat artikel yang membahas hambatan dari pengadopsian teknologi RFID yaitu Evans dan Piechowski (2005), mengeksplorasi hambatan dari pengadopsian teknologi RFID pada area industri kesehatan Kovavisaruch dan Suntharasaj (2007), Reyes dan Jaska (2007), pada area yang generik, sedangkan Tajima (2007). meneliti pada area supply chain management. Berikut ini rangkuman hasil identifikasi faktor-faktor yang menghambat pengadopsian teknologi RFID, yaitu:

  1. Bisnis: kurangnya koordinasi dengan pemerintah tentang aturan frekuensi, sedikitnya pengadopsian dari industri lain, ketiadaan informasi yang lengkap dan valid, nilai ROI tidak sesuai, tidak tersedianya anggaran yang cukup, tiadanya sumber daya internal yang mendukung, sedikitnya vendor/konsultan dari RFID, kekhawatiran adanya resiko yang mempengaruhi bisnis rumah sakit, dan adanya penolakan karena isu privasi dan keamanan.

  2. Teknologi: Adanya efek yang mempengaruhi kesehatan dan keselamatan,kompleksnya teknologi RFID, belum matangnya standar dari RFID, belum matangnya teknologi dari RFID, adanya perubahan radikal yang mempengaruhi sistem saat ini, reliabilitas yang masih meragukan, kurangnya keamanan dari teknologi

  1. Hasil Penelitian Pengadopsian Teknologi RFID di Rumah Sakit Indonesia

Berdasarkan penelusuran artikel di jurnal, majalah dan internet, belum ditemukan laporan mengenai implementasi teknologi RFID di rumah sakit Indonesia. Akan tetapi beberapa seminar tentang aplikasi teknologi RFID telah dilakukan. Ini menunjukkan bahwa rumah sakit di Indonesia masih dalam taraf inisiasi atau tahap adopsi dimana rumah sakit di Indonesia sedang berupaya mengetahui dan memahami bagaimana aplikasi teknologi ini dalam konteks rumah sakit. Di sisi lain, mungkin beberapa rumah sakit berupaya mengadopsi teknologi ini dengan terlebih dahulu melakukan justifikasi apakah rumah sakit layak dan menguntungkan melakukan investasi teknologi ini. Penelitian tentang pengadopsian RFID di Indonesia baru dilakukan oleh Vanany (2009) di rumah sakit berkategori besar dan bertipe A dan B di pulau Jawa. Responden dalam penelitian ini adalah dua orang dari konsultan teknologi RFID, dua orang peneliti teknologi RFID, dan delapan orang eksekutif/manajer dari rumah sakit (4 swasta, 4 pemerintah). Hasil investigasi ditemukan ada tujuh manfaat, sembilan hambatan bisnis dan tujuh hambatan teknologi. Selain menginvestigasi manfaat dan hambatan, peneliti juga mengidentifikasi pemahaman dari para responden tentang RFID. Hasilnya sebagian besar manajer rumah sakit memiliki pemahaman yang menengah mengenai teknologi RFID. Setelah diberikan beberapa ilustrasi bagaimana aplikasi teknologi RFID di rumah sakit, hampir semua responden meyakini bahwa teknologi RFID jika diterapkan di rumah sakit akan mampu mengefisienkan dan mengefektifkan proses di rumah sakit. Mereka juga meyakini bahwa strategi dan tujuan dari rumah sakit mereka akan dapat dicapai salah satunya dengan menggunakan teknologi RFID .

  1. Manfaat RFID di rumah sakit Indonesia

Hampir semua responden menganggap bahwa peningkatan keselamatan pasien diyakini bisa direalisasikan dengan teknologi RFID di samping terjadinya peningkatan proses bisnis. Salah satu upaya meningkatkan keselamatan pasien adalah dengan mereduksi medical error. Teknologi RFID dapat menyimpan data dengan kapasitas yang besar, sehingga dokter dan staf medis mengetahui jejak record dari kondisi pasien berupa riwayat kesehatan sebelumnya, tekanan darah, obat yang telah diminum dan tindakan sebelumnya sehingga tindakan lanjutan dapat dilakukan dengan tepat. Para dokter jaga dengan cepat menelusuri letak pasiennya dan para perawat tidak kesulitan menelusuri letak peralatan medis yang diperlukan secara mendadak untuk pasien. Adanya aplikasi teknologi RFID akan menyebabkan peningkatan proses bisnis berupa terjadinya proses otomatisasi yang berimplikasi tereduksinya proses yang bersifat manual. Dalam konteks rumah sakit, proses pemberian identitas pasien dan pemenuhan pelaporan SOP (standard operation procedures) tidak perlu dilakukan secara manual lagi. Pemberian identitas pasien dapat dilakukan secara otomatis tanpa perlu menginputkan data kembali karena data pasien sudah tersimpan pada sistem ketika pasien registrasi pertama kali. Pemenuhan pelaporan SOP sebagai kewajiban perawat jaga, tidak perlu dilakukan secara manual karena pelaksanaannya bisa dilakukan secara otomatis dengan bukti yang cukup kuat berupa waktu kapan aktivitas pemberian obat dan suntikan dilakukan oleh perawat. Perawat perlu menginputkan data aktivitasnya pada RFID tags yang telah dipakai oleh pasien. Pelaporan tindakan medis yang telah dilakukan perawat sesuai dengan perintah dari dokter, tidak perlu dilaporkan secara langsung karena dokter dengan bantuan telepon genggam berjenis PDA (personal digital assitant) yang memiliki fasilitas infrared dan bluetooth mampu membaca dokumen di RFID tags. Adanya aplikasi teknologi RFID dengan membubuhkan RFID tags pada obat-obatan, apoteker dan dokter dapat mengecek apakah obat-obatan yang diberikan ke pasien adalah asli atau palsu sehingga pemalsuan obat-obatan dapat dieliminir. Para manajer lebih condong menginginkan agar medical errors dapat ditekan sehingga keselamatan pasien bisa meningkat. Penelitian ini mengidentifikasi keyakinan responden terhadap manfaat yang dapat diperoleh dengan mengadopsi teknologi RFID adalah: pengurangan biaya dan waktu, peningkatan moral staf medis, peningkatan kepuasan pasien,, peningkatan produktivitas, peningkatan proses bisnis, peningkatan keselamatan pasien,, anti pencurian dan pemalsuan. Sedangkan area aplikasi yang dianggap penting bagi responden adalah pada penelusuran pasien dan peralatan medis. Hampir sebagian besar responden memilih penelurusan pasien sebagai prioritas utama dibanding dengan penelusuran peralatan medis dan lainnya. Upaya ini dilakukan agar keselamatan pasien dan kepuasan pasien dapat dicapai. Di sisi lain, pasien merupakan objek utama yang perlu treatment mulai dari awal pasien sakit sampai pasien sembuh.

  1. Hambatan pengadopsian RFID di rumah sakit Indonesia

Dari hasil penelitian ditemukan bahwa hambatan dari pengadopsian teknologi RFID di rumah sakit Indonesia dirasa relatif beragam dan tinggi hambatannya, dibanding negara lain seperti Singapura dan Malaysia. Para responden dari rumah sakit pemerintah lebih pesimis untuk mengimplementasikan teknologi RFID dalam waktu dekat dibanding dengan para responden dari rumah sakit swasta. Para responden rumah sakit pemerintah beropini bahwa adanya jalur birokrasi yang lebih panjang dan rendahnya dana pengembangan teknologi informasi menjadi penyebabnya. Dalam penelitian ini, hambatan dari pengadopsian teknologi RFID dibagi menjadi dua yaitu hambatan bisnis dan teknologi. Dalam konteks hambatan pada bisnis, sebagian besar responden menganggap bahwa faktor utama dari terhambatnya pengadopsian teknologi RFID karena ketiadaan informasi yang lengkap dan valid yang membahas bagaimana aplikasi teknologi RFID di rumah sakit melalui jurnal akademis (terutama nasional), majalah, surat kabar dan media lainnya. Kalaupun mereka mendapatkan informasi berkaitan dengan aplikasi teknologi RFID di rumah sakit, mereka mendapatkan informasi yang tidak lengkap dan valid sehingga sering beranggapan bahwa tidak mudah mengaplikasikannya dan biaya dari teknologi ini sangatlah mahal. Di sisi internal rumah sakit, tidak tersedianya anggaran yang cukup untuk mengimplementasikan teknologi RFID dan tiadanya sumber daya internal yang mendukung menjadi faktor penghambat penting kedua dan ketiga. Dalam konteks hambatan pada teknologi, sebagian besar responden menganggap bahwa kompleksitas dari teknologi dan sistem dari teknologi RFID adalah tinggi. Oleh karena itu, para responden memerlukan bantuan konsultan teknologi RFID untuk mengimplementasikan teknologi RFID. Keikutsertaan dan pelaksanaan training sendiri untuk para karyawan TI tentang aplikasi teknologi RFID di rumah sakit juga perlu untuk dilakukan. Relatif sedikitnya informasi yang ada menyebabkan mereka menganggap bahwa teknologi ini belum matang/sempurna dan juga belum memiliki standar yang baik sehingga akan cenderung berubah di masa mendatang. Pada kenyataanya, dewasa ini teknologi RFID relatif telah matang dan beberapa standar telah dibuat seperti EPC global yang telah dirujuk oleh lembaga ISO (International Standard Organization) (Tajima, 2007). Lembaga ISO sendiri memiliki standar yang menjadi rujukan banyak organisasi di seluruh dunia. Penelitian Vanany (2009) mengidentifikasi hambatan dari pengadopsian teknologi RFID di rumah sakit Indonesia, adalah:

  1. Bisnis: kurangnya koordinasi dengan pemerintah tentang aturan frekuensi, sedikitnya pengadopsian dari industri lain, ketiadaan informasi yang lengkap dan valid, nilai ROI tidak sesuai, tidak tersedianya anggaran yang cukup, tiadanya sumber daya internal yang mendukung, sedikitnya vendor/konsultan dari RFID, kekhawatiran adanya resiko yang mempengaruhi bisnis rumah sakit, dan adanya penolakan karena isu privasi dan keamanan.

  2. Teknologi: adanya efek yang mempengaruhi kesehatan dan keselamatan, kompleksnya teknologi RFID, belum matangnya standar dari RFID, belum matangnya teknologi dari RFID, adanya perubahan radikal yang mempengaruhi sistem saat ini, reliabilitas yang masih meragukan, kurangnya keamanan dari teknologi.




  1. KESIMPULAN

Penerapan penggunaan RFID di rumah sakit adalah untuk merapikan manajemen administrasi dan mendukung kinerja. Para dokter dan perawat dapat mengakses informasi kesehatan pasien sekaligus memasukkan data terbaru setelah pemeriksaan tanpa beranjak dari sisi tempat tidur pasien. Selain itu, para petugas medis juga semakin mudah untuk dihubungi di dalam area rumah sakit yang dilengkapi dengan RFID yang dipasang di gelang pasien dan peralatan medis sehingga memonitor pergerakan pasien serta mencari lokasi peralatan dapat dilakukan dengan lebih mudah dan cepat. Dengan memanfaatkan teknologi maka rumah sakit dapat meningkatkan produktifitas sekaligus menekan biaya operasional. Teknologi RFID dapat memberikan pelayanan terbaik bagi pasien, meningkatkan kinerja pelayanan dan kepuasan dokter, perawat dan karyawan serta tim kesehatan lainnya, sekaligus mematuhi regulasi atas keamanan dan privasi yang ada, sehingga memungkinkan rumah sakit memanfaatkan penuh transformasi yang dibawakan oleh teknologi informasi dalam menghadirkan layanan perawatan yang lebih aman, efektif, dan berorientasi kepuasan pasien.


  1. Rekomendasi

Tenaga perawat sebagai salah satu tenaga yang mempunyai kontribusi besar bagi pelayanan kesehatan, mempunyai peranan penting untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan melalui kemampuannya melaksanakan asuhan keperawatan sesuai standar, yaitu dari mulai pengkajian sampai dengan evaluasi dan yang sangat penting adalah disertai dengan sistem pendokumentasian yang baik. Dalam upaya peningkatan mutu tersebut perawat dapat menggunakan bantuan alat berupa RFID yang dipasangkan pada klien, sehingga perawat dapat memantau dan menentukan pelayanan atau asuhan yang tepat bagi klien. Penggunaan teknologi RFID akan membantu dalam pencapaian patient safety melalui upaya-upaya perbaikan komunikasi, melengkapi program sistem informasi dengan berbagai kalkulasi, pengembangan sistem pendukung keputusan, dan respon cepat. Oleh karena itu penting bagi perawat agar mampu mengaplikasikan berbagai sistem informasi yang berbasis teknologi dalam dunia keperawatan untuk meningkatkan kualitas pelayanan terhadap klien dengan cara yang efektif dan efisien.


*Mahasiswa program magister kekhususan kepemimpinan dan manajemen keperawatan FIK-UI 2009 NPM 0906504726

_________________________________________________________________________


Kepustakaan


Anam, C. (2010)..Aplikasi informatika kedokteran dalam manajemen informasi di rumahsakithttp://www.mojokertokab.go.id/mjk/sub/dinkes/index.php?page=articles_&no=26&sub=Aplikasi%20Informatika%20Kedokteran%20dalam%20Manajemen%20Informasi%20di%20Rumah%20Sakit, diunduh 27 September 2010


Bacheldor, B. (2006). FDA Issues new 'counterfeit drug task force' report, http://www.rfidjournal.com/article/articleview/2420/1/1/, diunduh 10 Oktober 2010.


Business Wire Market, (2008). The market for RFID tags and systems in healthcare and pharmaceuticals will rise from $ 85.24 million in 2007 to $ 2.05 billion in 2017, http://findarticles.com/p/articles/mi_m0EIN/is_2008_April_25/ai_n25357705, on 14th june 2008.


Evans, N. D., and Piechowski, R., (2005). RFID in healthcare: 2005 survey results summary, www.bearingpoint.com/portal/site/, on 14th feb 2008. http://www.ups-scs.com/solutions/white_papers/wp_RFID_in_healthcare.pdf, diunduh 10 Oktober 2010


FAO Newsroom. (2008). Bird flu situation in Indonesia critical http://www.fao.org/newsroom/en/news/2008/1000813/index.html, diunduh 10 Oktober 2010


FDA.,. (2006). .FDA counterfeit drug task force report: 2006 update, http://www.fda.gov/oc/initiatives/counterfeit/report6_06.html, diunduh 10 Oktober 2010


Iwan, V. (2009). Pengadopsian teknologi RFID di rumah sakit, manfaat dan hambatannya. Jurnal Teknik Industri, Vol. 11, No. 1, Juni 2009, pp. 82-94 ISSN 1411-2485 http://www.ie.its.ac.id/downloads/publikasi/132230426_1130RFID_JTI%20petra%20Juni%20.pdf, diunduh 26 September 2010


Kovavisaruch, L., and Suntharasaj, P., (2007). “Converging technology in society: opportunity for Radio Frequency Identification (RFID) in Thailand's transportation system”. Proceddings of the PICMET, Portland, Oregon, USA.


Kwon, T. H., and Zmud, R. W., (1987). Unifying the fragmented models of information systems implementation, in critical issues in information systems research, John Wiley & Sons, Inc, pp. 227-251,


Orlovsky, C. (2005). Radio frequency identification technology protects hospital patients,equipment http://www.nursezone.com/nursing-news-events/devices-and-technology/Radio-Freque, diunduh 26 september 2010


Ozbolt JG, Schulzt S.Swain, Abraham IL (1985).A Proposed expert systemfor nursing practice: A spring board to nursing science. Journal of medical system. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/3839835, diunduh 12 Oktober 2010


Reyes, P. M., and Jaska, P., (2007). Is RFID right for your organization or application? Management Research News, Vol. 30, No. 8, pp. 570 - 580.


Sabbaghi, A. (2007). Efficiency of RFID in supply chain management: strategic benefits an challenges. Volume VIII. No. 2. 2007. http://www.iacis.org/iis/2007_iis/PDFs/Sabbaghi_Vaidyanathan.pdf, diunduh 10 Oktober 2010


Swedberg, C. (2008). Italian hospital uses RFID to document patient location, treatment. RFID Journal. http://www.rfidjournal.com/article/view/3865/1/1/, diunduh 10 Oktober 2010


Tajima, M., (2007). Strategic value of RFID in supply chain management, Journal of Purchasing and Supply Management, Vol. 13, No. 4, pp. 261-273.


Tzeng, S. F., Chen, W. H., and Pai, F. Y., (2008). Evaluating the business value of RFID: Evidence from five case studies. International Journal of Production Economics, Vol. 112, No. 2, pp. 601-613.


Wang, S. W., Chen, W. H., Ong, C. S., Liu, L., and Chuang, Y. W., (2005). RFID applications in hospitals: A case study on a demonstration RFID project in a Taiwan hospital. Proceedings of the 39th Hawaii International Conference on Systems Sciences, Los Alomos.


Wessel, R., 2007. RFID synergy at a Netherlands hospital. RFID Journal.


Iwan, V. (2009). Pengadopsian teknologi RFID di rumah sakit, manfaat dan hambatannya. Jurnal Teknik Industri, Vol. 11, No. 1, Juni 2009, pp. 82-94 ISSN 141

Добавить в свой блог или на сайт

Похожие:

Radio Frequency Identification rfid iconThis is Lyngby Radio Lyngby Radio Lyngby Radio
...

Radio Frequency Identification rfid iconApplication of rfid in a manufacturing line

Radio Frequency Identification rfid iconCmpe 209 Research Paper rfid security

Radio Frequency Identification rfid iconRfid handbook : applications, technology, security, and privacy

Radio Frequency Identification rfid iconDelen, D., Hardgrave, B. C., Sharda, R. 2007. Rfid for better supply-chain management through enhanced information visibility

Radio Frequency Identification rfid iconواستخدام تقنية rfid يقلل الوقت المطلوب لتنفيذ عمليات الإعارة. ومع شرائحها المغلّفة،

Radio Frequency Identification rfid icon1 substance identification

Radio Frequency Identification rfid iconDeliverable identification

Radio Frequency Identification rfid iconDocumentation and identification of vessels

Radio Frequency Identification rfid icon2. Identification and Development process


Разместите кнопку на своём сайте:
lib.convdocs.org


База данных защищена авторским правом ©lib.convdocs.org 2012
обратиться к администрации
lib.convdocs.org
Главная страница